Simpati

Sebuah training di kantor gue mengajarkan perlunya bisa bersimpati kepada orang lain dalam cakupan area lingkungan kerja.

Contoh kasus,

  • Salah satu karyawan meminta ijin untuk absen dari kantor karena ada berita duka cita di keluarganya.
  • Sang atasan menyanggupi dengan kalimat, “Oke, tapi sebelum pergi pastikan kirim report dulu ya, dan bikin plan dulu untuk besok, bla bla bla *topik kerjaan*”
  • Sang karyawan mengiyakan dengan agak sedikit heran mendengarnya.

Kenapa heran?

Karena buat dia, standar respon yang biasanya itu kan ucapan duka cita, tapi kok ini…? Sang atasan pun sepertinya tanpa sadar melakukan ini, jadi yah..ngga kepikiran buat ngucapin juga akhirnya.

Kalo berdasarkan pengalaman sang trainer sendiri justru terjadi antara dia dan loper koran langganan dia. Suatu hari, si loper langganan ini ngga muncul untuk mengantarkan koran seperti biasanya. Saat besoknya dia datang, terjadilah percakapan ini.

  • Kemana kamu kemarin?, kata sang bapak.
  • Maaf Pak, kemarin saya sakit, jadinya ngga anter koran.
  • Gimana sih, saya kan jadi ketinggalan berita ngga baca koran *dan-lalu-ngomel-ngomel*.

Setelah sang loper pergi, bapak trainer ini baru kepikiran, kenapa responnya dia justru begitu yah. Mana rasa peduli dia? Lebih penting dia nganterin koran walaupun sakit-sakitan daripada dia istirahat yang benar dulu biar cepat sembuh?

Moral of the story? Gara-gara kejadian ini trainer-nya jadi punya bahan cerita pas training deh. Hehehe. *kidding, and yes you know it*

ps. Kondisi pertama bukan kantor saya, sumpe de, hehehe 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s